25 Maret 2011

Jangan Asal Pilih, Masa Depanmu Ada pada Pilihanmu !

5 komentar

(sumber gambar : http://girlsmanis.blogspot.com)

Saat makan siang beberapa hari lalu, bersama teman sekelas, saya berdiskusi tentang masa lalu mereka. Masa dimana mereka berjuang untuk dapat masuk di perguruan tinggi favorit mereka masing-masing. Secara umum, topic pembicaraan kita mengacu pada STAN, sekolah tinggi kedinasan yang berada di bawah departemen keuangan Republik Indonesia. Perguruan tinggi yang telah mencetak akuntan-akuntan handal ini, memang sangat fenomenal di kalangan siswa-siswi SMA. Tiap tahunnya ada ribuan luluasan SMA berebut tempat duduk di kampus STAN. Tidak terekecuali teman-temanku yang kemarin makan siang bersamaku. Sebenarnya, waktu SMA dulu saya juga ditawari oleh orang tuaku untuk mendaftar di STAN. Tetapi, dengan halus saya menolaknya. Mengingat dulu waktu masih tinggal di papua, STAN hanya membuka pendaftran di sorong dan jayapura (kalo gak salah). Ditambah lagi, perasaaan “gak mau banting stir” di dalam hatiku. (Bukannya mau sok-sok-an)Bagiku STAN sebenarnya lebih tepat buat teman-temanku yang berada di kelas IPS. Sedangkan saya, sejak di SMA dulu sudah tergabung di kelas XI dan XII IPA 4.
Lanjut ke perbincanganku , ada seorang temanku yang sebenarnya dulu sudah diterima di STAN. Namun, entah apa yang ada dalam pikirannya, dia lebih memilih STTN (sekolah tempatku saat ini). Dengan nada bercanda, beberapa temanku menyebut dia ‘aneh’, karena telah melepas peluang emas menempuh pendidikan di STAN. Saya juga mendengar cerita dari mereka, bahwa ada adik tingkatku yang melakukan hal yang sama. Tetapi bukan hanya STAN yang dilepasnya, tetapi juga STIS yang merupakan perguruan tinggi kedinasan dibawah badan pusat statistik. Entah cerita itu benar atau tidak, karena saya sendiri baru mendengarnya saat itu. Tidak putus sampai di situ, ada juga temanku yang melepas peluang mereka kuliah di kampus yang sudah memilki nama seperi IPB , ITS atau UGM dan lain sebagainya. Dengan pertimbangan, mereka juga akhirnya lebih memilih STTN.

Bertolak belakang dengan dua rekan sesama mahasiswa dikampus tadi, yang melepas peluang mereka untuk kuliah di STAN., tidak sedikit pula yang merasa ‘nyasar’ setelah beberapa bulan kuliah di STTN. Mungkin mereka berpikir kampus atau sistem pendidikan di STTN tidak ‘segagah’ namanya, seperti yang mereka bayangkan sebelumnya. Alhasil, ada yang memilih keluar ataupun mencoba peruntungannya dengan mendaftarkan diri di tempat lain. Jika semua mahasiwa STTN merasa “nyasar”, maka saya akan merasa bersalah. Bagaimana tidak, saat proses pendaftaran ada beberapa mahasiswa yang meminta pandangan saya mengenai STTN. Mungkin saja, mereka lebih memilih STTN kareana masukan-masukan dari saya. Kalo boleh jujur, sebenarnya saya juga dulu hanya menempatkan STTN di pilihan akhir diantara perguruan tinggi yang saya daftar. Namun apa daya, manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang memutuskan. Saya gagal diterima di tempat yang saya impikan. Memang berat sebelumnya, menimba ilmu di tempat yang menjadi pilihan terakhir.

Tiga bulan pertama kuliah di STTN ,merupakan masa tersulit bagi saya. Saya harus beradaptasi dengan kebudayaan yogya, yang terkenal lemah lembut dan sopan santun. Sedangkan saya lahir dan dibesarkan di Biak –Papua, yang orang-orangnya terkenal dengan sifat kerasnya. Tidak heran, diawal masa perkuliahan saya memiliki beberapa pemasalahan dengan rekan-rekan sesama mahasiswa. Saat itu juga, untuk petama kalinya, saya harus menjalankan ibadah puasa ramadahan jauh dari keluarga. Setelah beberapa bulan berlalu saya akhirnya mampu beradaptasi . Menjaga hubungan baik dengan teman dan mencoba mensyukuri apa yang Allah SWT telah berikan padaku. Dengan bersyukur, kita akan lebih fokus dalam melakukan suatu hal. Jika dianalogikan dengan kehidupan, saat saya merasa kuliah di STTN merupakan beban (karena merupakan pilihan akhir saya saat itu), saya mengalami banyak masalah dengan pergaulan, proses belajar maupun hasil ujian saya. Namun, saat saya yakini bahwa memang di STTN inilah jalan yang diberikan oleh Allah padaku, alhamdilillah kegiatan dan hasil perkuliahan maupun interaksi saya semakin membaik.

Kembali ke topik ulasan kita, STTN memang belum memiliki nama “setenar” UGM,ITS,IPB,ITB maupun STAN. Sistem pendidikannya juga, belum bisa dikatakan sempurna. Menurut pendapatku, kurikulumnya masih perlu banyak di revisi. Fasilitas praktikum juga perlu diperbarui. Sistem adminsitrasinya perlu di modernisasikan. Masa, mengisi KRS saja mahasiswa harus menulis pada blangko rangakap 5 ! Ini sudah zaman komputerisasi, semua kegaiatan perkuliahan sudah seharusnya dilakukan dengan bantuan komputer. Student Governmentnya pun masih kacau balau. Anggaran Dasar – Anggaran Rumah Tangga yang merupakan pedoman tertingi organisasi kemahasiswaan pun, masih sering di langgar oleh mahasiswa sendiri. Lalu siapakah yang harus mengatasi hal ini. Apakah kita hanya bisa lari dari semua permasalahan diatas, dengan “angkat kaki” dari STTN ? Saya tidak yakin 100%, jika anda mendaftar dan diterima di perguruan tinggi lain, anda tidak akan menjumpai semua permasalahan di atas!

Nah jika anda adalah siswa SMA yang hendak melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi, Jangan berpikir di tempat mana sebaiknya anda mendaftar untuk kuiah. Tetapi, berpikir ditempat mana saya akan berkarya dan berprestasi, sesuai dengan bakat minat yang saya miliki. Saran saya , pertimbangkan juga masalah tempat, biaya, jarak, potensi lulusan, fasilitas atau sarana maupun pergaulan di kampus yang hendak anda daftar. Karena faktor-faktor itulah yang turut mempengaruhi hasil karya dan prestasi mahasiswanya. Cari nara sumber terpercaya, seperti mahasiswa atau alumnus yang dapat memberi informasi yang bersifat obyektif. Jangan mencari informasi pada pihak kampus. Karena pihak kampus biasanya melebih-lebihkan agar anada tertarik mendaftar di tempat mereka.

Untuk rekan-rekan mahasiswa yang namanya sudah “terlanjur” terdaftar di absensi di ruang akademik STTN , sudah seharusnya kita sadar , semua permasalahan diatas adalah tanggung jawab MAHASISWA STTN itu sendiri. Memang, menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal mudah. Jika kita diterima di perguruan tinggi, bukan berarti kita langsung menjadi mahasiswa. Mahasiswa bukan hanya “status “, tetapi merupakan jiwa yang tertanam di hati seseorang. Mahasiswa bukanlah siswa SD, SMP, maupun SMA yang hanya bisa tunduk dan patuh terhadap semua aturan yang ada. Tetapi, mahasiswa mampu merubah aturan dengan ke-aktif dan kekritisannya, jika memang aturan itu tidak sesuai dengan yang seharusnya. Mahasiswa bukanlah preman jalanan yang hanya berani berkelompok dan melakukan tindakan-tindakan anarkis di depan umum. Lalu pergi begitu saja, tanpa merasa bersalah. Namun, mahasiswa berani dan mampu berdiri sendiri menyampaikan aspirasinya dengan penuh tanggung jawab. Mahasiswa bukanlah siswa SD yang sehari-hari hanya bisa mengerjakan tugas yang diberikan gurunya. Mahasiswa adalah orang yang mampu mengembangkan tugasnya, menjadi karya nyata yang bisa di banggakan. Ingat, yang menjadikan nama sebuah kampus terkenal bukanlah pihak kampus, tetapi prestasi-prestasi dari mahasiswanya !
Saya tekankan sekali lagi, jangan asal pilih, masa depan ada pada pilihanmu ! Maksud pilihan disini, bukan berarti saya menyuruh anda memilah kampus-kampus ideal yang sudah memiliki nama dan yang belum memiliki nama. Bagi seorang mahasiswa kuliah di kampus mana saja adalah sama. Yang membedakannya adalah tingkat keatifan dan kekritisan mahasiswa itu sendiri. Jadi, pilihan anda adalah ingin menjadi seorang mahasiswa atau seseorang yang hanya memilki status sebagai mahasiswa.

Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Baca Selengkapnya....